KPS IMUNOLOGI Pascasarjana Meneliti Minyak Zaitun Terozonisasi Efektif Taklukkan Bakteri MRSA

image
By usi_pasca On Tuesday, February 21 st, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Khasiat minyak zaitun atau olive oil memang telah lama populer. Selain dapat dikonsumsi untuk kesehatan, minyak zaitun juga bermanfaat untuk memelihara kecantikan. Namun kini khasiatnya tak lagi sebatas itu.  Baru-baru ini, sebuah penelitian membuktikan bahwa ternyata minyak zaitun juga ampuh membunuh bakteri MRSA. Yakni jenis bakteri yang tidak mudah ditaklukkan dengan antibiotik jenis apapun.

Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si berhasil membuktikan hal tersebut melalui sebuah riset. Kepada UNAIR NEWS, Agung mengungkapkan, minyak zaitun yang ia teliti adalah minyak yang telah melalui proses ozonisasi.

“Selama ini minyak zaitun dikenal manfaatnya untuk kesehatan, namun tidak untuk bakteri. oleh sebab itu saya coba buktikan dengan membandingkan hasil kerja antara minyak zaitun biasa dengan minyak zaitun yang telah terozonisasi, dan hasilnya berbeda,” ungkapnya.

Ozonisasi merupakan teknologi sederhana menggunakan alat teknologi khusus. Dalam prosesnya, minyak dialirkan ke tabung, selanjutnya dilakukan ozonisasi menggunakan suhu tinggi 3000 derajat. Cara ini dilakukan agar minyak dapat bereaksi mengeluarkan komponen baru.

“Melalui pengamatan yang cukup lama, tenyata setelah dilakukan ozonisasi, terjadi perubahan unsur yang kemudian menghasilkan komponen bernama daletin. Daletin inilah yang bekerja membunuh kuman maupun bakteri,” ungkapnya.

Untuk membuktikan hal tersebut, Agung membandingkan hasil kerja antara minyak zaitun biasa dengan minyak zaitun yang telah terozonisasi selama berulang kali.

“Saya mencoba menggunakan minyak zaitun biasa untuk membunuh kuman, ternyata tidak bisa. Kuman saja tidak bisa, apalagi bakteri selevel MRSA sudah pasti bakalan cuek-cuek saja. Lalu saya coba gunakan minyak zaitun yang di ozon, ternyata hasilnya berbeda. Bakteri MRSA terbukti mati, begitupun dengan kuman lainnya,” ungkapnya.

Agung memulai penelitiannya  tahun 2016 lalu. Penelitian itu pun dilakukan atas permintaan seorang klien bernama Kayapan Satya Darsan asal India. Dalam hal ini, Darsan adalah penemu teknik ozonisasi pada minyak zaitun, sementara Agung adalah peneliti bidang Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dipercaya olehnya untuk meneliti lebih jauh potensi minyak zaitun yang terozonisasi.

“Saya termotivasi untuk meneliti hal tersebut karena dorongan rasa penarasan pak Darsan yang cukup tinggi terkait produknya itu. Apakah minyak ini mampu menghilangkan kuman atau tidak?,”jelasnya.

Peraih Travel Award for Young Scientist, Awaji Internastional Forum for Infection and Immunity, Osaka University, Japan tahun 2009-2010-2012 ini pun memulai ‘petualangannya’ di meja laboratorium. Setelah tiga kali uji penelitian pada hewan dan hasilnya terbukti mampu membunuh kuman, Agung kemudian beranjak mengembangkan penelitiannya pada bakteri MRSA, dan itu dibuktikan melalui uji coba pada hewan.

“Darsan kemudian mengajak saya untuk meneliti lebih lanjut pada bakteri MRSA. Karena MRSA menjadi kasus dunia saat ini. Pakar herbal itu pun mendanai riset ini. karena awalnya hanya berhasil di tingkat invitro, saya lanjutkan penelitian tersebut ke hewan. Dan terbukti, bakteri MRSA mati setelah dilakukan terapi pengobatan menggunakan minyak zaitun yang terozonisasi,” jelasnya.

Karena ini temuan yang berharga, Wisudwan terbaik Program Pendidikan S3 FK Unair bidang Imunologi ini pun optimis hasil penelitiannya dapat segera dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, khususnya para penderita infeksi MRSA dari kalangan orang tidak mampu.

Walaupun sementara ini bahan baku minyak zaitun masih harus didatangkan dari luar negeri, namun Agung yakin tidak akan memberatkan biaya produksi, mengingat proses penelitian nya sendiri berlangsung di FK UNAIR. Begitupula dengan proses produksinya, dilakukan  sepenuhnya di Indonesia.

Untuk memudahkan sampai ke tangan konsumen nantinya, produk minyak zaitun terozonisasi ini dikemas dalam wadah yang simple seberat 15 gram. Tekstur minyaknya sendiri tampak seperti lip balm, sehingga praktis tanpa khawatir tumpah.

Koordinator Program Studi Magister Imunologi FK UNAIR –RSUD Dr. Soetomo  itu mengklaim tidak ada penambahan zat kimia apapun ke dalam saleb tersebut. komposisinya hanya terdiri atas gabungan beberapa minyak alami seperti sea butter maupun coconut butter.

Produk penelitiannya tersebut kini telah didaftarkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), hanya tinggal menunggu surat ijin edar. Meskipun belum menerima surat ijin edar dari BPOM RI, namun produk tersebut sudah terlebih dulu mendapat ijin edar ke luar negeri, seperti Jepang, India, Kamboja, Thailand, dan  Inggris.

“Riset ini menjadi referensi di India, namun berbeda dengan di Jepang. Pihak Jepang masih sedang melakukan uji riset produk tersebut dan menyandingkannya dengan kasus MRSA disana. Saya masih menunggu kabar,” ungkapnya.

Penulis: Sefya Hayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *