Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si. Optimis Kembangkan Riset Minyak Zaitun Berkat Testimoni Pasien

image
By usi_pasca On Thursday, February 23 rd, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Selain terbukti dapat menaklukkan bakteri MRSA, efek ‘ajaib’  minyak zaitun yang terozonisasi ini ternyata juga dirasakan pula oleh penderita kaki diabetik. Setelah berulangkali mengoleskan minyak pada luka yang menganga di bagian kaki, hasilnya kondisi kaki berangsur membaik. Kaki mereka akhirnya urung diamputasi.

Pengalaman pasien ini diceritakan oleh Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si., dalam acara workshop kaki diabetik di Aula Gedung Diagnostic Center (GDC) RSUD Dr. Soetomo, 17/2.

“Sebetulnya yang memberi kesaksian bukan saya, karena saya tidak mengira efeknya bakal sejauh ini. Pasien sendiri yang bercerita pengalamannya menggunakan minyak zaitun tersebut .Saya sering dapat kiriman gambar dan testimoni dari pasien yang di-share melalui WA,” ungkapnya.

Agung tak mengira jika efek dramatis dari saleb tersebut juga bermanfaat untuk penyembuhan luka kaki penderita diabetes. Proses penyembuhan lukanya sendiri terbilang cepat. ”Sebelumnya kondisi kaki pasien sudah parah sekali, dan hampir saja diamputasi. Namun setelah diterapi menggunakan saleb ini, kondisi luka berangsur membaik. Sering lo, pasien dijadwal akan amputasi, malah ndak jadi,” ungkapnya.

Melalui risetnya, Agung berkesimpulan bahwa ternyata efek dari minyak zaitun yang terozonisasi ini dapat bekerja membunuh kuman sekaligus mempercepat proses penyembuhan luka. Ini yang membedakan saleb minyak zaitun dengan  krim obat kulit yang umumnya hanya memiliki satu efek saja.

“Minyak zaitun ini punya fungsi ganda. Bahkan proses penyembuhannya sendiri berlangsung lebih cepat karena kumannya di bikin ‘keok’ dulu, baru kemudian disembuhkan,” jelasnya.

Agung mengklaim, bahwa saleb minyak zaitun yang terozonisasi ini tidak menimbulkan resistensi, tidak ada efek iritasi dan  tidak menimbulkan ketergantungan. Karena komposisi saleb berasal dari bahan alami.

Karena murni dari bahan alami, saleb ini juga aman digunakan sebagai pelembab kulit, mengatasi problem kulit seperti jerawat, menyamarkan strechmark, alergi kulit pada bayi, hingga luka bakar.  “Malah ada pasien saya yang iseng-iseng  coba mengoleskan saleb ini ke bagian sela-sela jari kakinya yang beraroma kurang sedap. Ngefek juga ternyata,” kelakarnya.

Riset ini sudah melalui dua tahap pengujian. Yaitu uji pemeriksaan di laboratorium Mikrobiologi FK UNAIR untuk melihat resistensi kuman dan uji pada hewan coba. Setelah ini, akan dipersiapkan uji Biofilm atau tes untuk melihat lapisan yang dibuat oleh kuman pada benda-benda asing.

“Kuman sebenarnya juga bisa menempel pada jarum infus, bahkan alat pen yang dipasangkan ke tulang, sekalipun baru keluar dari kemasan. Kondisi ini yang sebenarnya sering menyebabkan infeksi pada pasien,” ungkapnya.

Urgensi akan penggunaan saleb minyak zaitun ini sebenarnya tidak dapat dihindari. Menurut pengamatannya selama ini, sebagian besar pasien penderita infeksi MRSA adalah dari kalangan tidak mampu. Begitu pula dengan penderita kaki diabetik. Melihat kondisi demikian, Agung kemudian berinisiatif membagi-bagikan saleb minyak zaitun ini secara cuma-cuma kepada pasien yang membutuhkan.“ Nggak tega rasanya melihat pasien kurang mampu terus diamputasi karena luka parah di kakinya,” ungkapnya.

Terkait MRSA, tahun 2008 Agung bahkan telah membuat guideline untuk manajemen MRSA. Guideline tersebut meliputi manajemen untuk penderita, manajemen perawatan luka dan manajemen lingkungan. Menurutnya,  ini penting mengingat penularan MRSA dapat terbawa pulang oleh pasien selama belum benar-benar sembuh total.

“Biasanya, pasien MRSA harus pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya BPJS. Padahal belum tentu pasien sembuh secara total, ini yang berbahaya. Karena selama pasien belum benar-benar sembuh, akan berpotensi menular di lingkungan keluarganya juga,” ungkapnya.

Setelah berhasil membuktikan potensi minyak zaitun dalam memerangi MRSA, Agung berencana akan mengembangkan penelitiannya pada bidang kanker. “ Saya akan cari tahu kira-kira minyak zaitun yang terozonisasi ini mampu memperbaiki luka kanker nggak ya? Seperti kanker payudara misalnya. Jika berhasil, harapannya  penderita tidak sampai menjalani operasi dan kehilangan asset berharganya,” ungkap pria kelahiran kelahiran April 1975 ini.

Agung juga berencana akan meneliti lebih dalam lagi terkait ada tidaknya efek antivirus pada minyak zaitun ini.”  Keberhasilan riset ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk kemaslahatan umat. Semoga berhasil,” ungkap penghobi buku tasawuf dan kitab kuning ini.

Penulis: Sefya Hayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *