Siap bersaing di ASEAN, Prodi Imunologi Punya Prospek Gemilang

image
By usi_pasca On Thursday, March 09 th, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Salah Satu program studi (prodi) yang dimiliki Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga adalah S-2 Imunologi. Di sana, perkuliahan lintas disiplin ilmu disajikan. Para dosen dan mahasiswa pun berasal dari berbagai fakultas maupun departemen. Misalnya, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Keperawatan, Fakutas Kesehatan Masyarakat, Program Studi D-3 Analis Medis, dan lain sebagainya.

“Para mahasiswa yang sekarang belajar di prodi itu berasal dari seluruh wilayah nusantara,” kata Wakil Direktur bidang Akademik Sekolah Pascasarjana Prof Dr Anwar Ma’ruf., MKes., drh.

“Tahun lalu, kami sudah menerima mahasiswa dari luar negeri. Demikian pula tahun ini,” tambah Ketua Prodi S-2 Imunologi UNAIR dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, MSi.

Agung menerangkan, di Indonesia tidak ada program studi S-2 yang fokus membahas imunologi dengan berbagai disiplin ilmu. Prodi ini hanya ada di UNAIR. Inilah keunikannya. Di beberapa kampus maupun fakultas, memang ada prodi yang berhubugan dengan imunologi. Namun umumnya, prodi tersebut sekadar membahas parsial terkait ilmu ini. Sedangkan UNAIR, menyuguhkan perkuliahan yang komprehensif dan mendalam tentang imunologi.

“Prodi seperti ini ada di beberapa negara ASEAN. Jadi bisa dibilang, persaingan kami sudah di ranah global level ASEAN,” imbuh Agung.

Ilmu pengetahuan terus berkembang dan Prodi Imunologi ini lintas bidang, sehingga  prospeknya pun begitu gemilang. Karena sasaran pengaplikasian imunologi makin luas, maka itu para mahasiswa dapat dipastikan bakal gampang berkarya di masyarakat.

Selama ini, untuk menguatkan kualitas, Prodi Imunologi terus melaksanakan kegiatan akademik di luar perkuliahan. Misalnya, dengan menggelar seminar, konferensi, maupun symposium seperti yang diadakan pada Rabu (3/8) lalu.

Event kaliber nasional bertajuk “Symposium Wound Infection, From Basic to Clinic” itu diminati banyak peserta. Ada sekitar 250 pengunjung dari 200 pengunjung yang ditargetkan. Jumlah ini terdiri dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu makalah yang menjadi perhatian pada symposium tersebut adalah soal zat aktif dalethyn yang berasal dari olive oil alias minyak zaitun. Ditegaskan dalam makalah dr. Agung, zat tersebut dapat membunuh kuman nosocomial. Kuman tersebut kerap menyerang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Serangan tersebut dapat menyebabkan kematian. Selama ini, untuk “memerangi” kuman itu, sekadar menggunakan antibiotik.  (*)

Penulis  : Rio F. Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *