Tim Imunologi Unair Temukan “Dalethyne” Atasi Nosokomial

image
By usi_pasca On Kamis, Maret 30 th, 2017 · no Comments · In

Terpenting dari semua itu adalah zat aktif deletyne ini ditemukan oleh anak bangsa bernama Kayapan Satua Dharsan, lalu diuji anak bangsa Indonesia pada Program Studi Imunologi pada Sekolah Pascasarjana Unair. Kami yakin hasil riset ini memberikan social impact secara global terutama di bidang kedokteran

Surabaya (Antara Jatim) – Tim Imunologi Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menemukan zat aktif “dalethyne” pada produk Medcare yang diyakini sebagai satu-satunya metode pengobatan untuk mengatasi infeksi nosokomial.

“Kami menyambut gembira temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Imunologi Pascasarjana Unair yang dapat menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia,” kata Direktur Sekolah Pascasarjana Unair Prof. Dr. Sri Iswati, SE, MSI, Ak dalam konferensi pers di Aula FK Unair Surabaya, Rabu.

Ia berharap pemerintah menyambut baik hasil temuan ini dan temuan ini akan dilanjutkan ke penelitian selanjutnya untuk akhirnya diproduksi guna kepentingan masyarakat luas.

Sebelumnya, tim imunologi melakukan riset “Study Efektivitas Zat Aktif Dalethyne pada Lika Insisi yang terinfeksi pada Rattus Norvegius. Zat aktif dalethyne ditemukan orang Indonesia bernama Kayapan Satya Darsan.

“Terpenting dari semua itu adalah zat aktif deletyne ini ditemukan oleh anak bangsa bernama Kayapan Satua Dharsan, lalu diuji anak bangsa Indonesia pada Program Studi Imunologi pada Sekolah Pascasarjana Unair. Kami yakin hasil riset ini memberikan social impact secara global terutama di bidang kedokteran,” katanya.

Menurut dia, Sepsis Nosocomial merupakan problem yang serius bagi pasien yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Infeksi ini umumnya disebabkan beberapa mikroorganisme, di antaranya Methicilin Resiten Staphylococcus Aureus (MRSA), Extended Spectrum Beta Lactam (ESBL), Klebseilla Pneumonia Carbapenemase (KPC), dan Pseudomonas Aeruginosa.

“Sepsis Nosocomial berhubungan erat dengan peningkatan angka kematian, angka kesakitan dan lama perawatan di rumah sakit,” katanya.

Data dari WHO 2016 mencatat tujuh kasus dari 100 penderita masuk rumah sakit (di negara berkembang) dan 10 kasus dari 100 orang (di negara sedang berkembang) terinfeksi MRSA terjadi di seluruh dunia. Sementara di negara maju, Eropa dan USA masing-masing 7,1 persen dan 4,5 persen.

Tim peneliti beranggotakan 10 orang dan diketuai oleh Koordinator Program Studi Imunologi, Sekolah Pascasarjana Unair, Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, Msi.

“Kami mengamati beberapa temuan penting yang berhubungan dengan mekanisme kerja zat aktif Dalethyne dalam kapasitasnya pada proses penyembuhan luka; yang mana dipercayai temuan ini menjadi terobosan penting pada ilmu kedokteran abad ini dan akan merevolusi modalitas penanganan penyembuhan luka,” katanya.

Dalam pengujian tersebut, ada beberapa temuan penting yang memperjelas peran zat aktif Dalethyne pada proses penyembuhan luka, antara lain proses epitelialisasi; proses epitelisasi pada hewan coba yang diberikan Medcare hasilnya lebih cepat, proliferasi fibrolast dan penebalan kolagen pada luka yang terinfeksi menunjukkan bahwa proses proliterasi dan penebalan kolagen jadi lebih cepat terjadi dibandingkan kontrol.

Selain itu, proses pembentukan neovaskularisasi proses ini menjadi penting untuk mendukung proses epitelisasi dan proliferasi fibroblast karena mensuplai nutrisi dan oksigen ke jaringan yang mengalami penyembuhan luka dan membunuh mikroorganisme penyebab infeksi nosocomial.

Dua tahapan yang dilakukan untuk menguji antara lain, secara in vitro menggunakan mikroba penyebab infeksi nosokomial dan kedua secara in vivo menggunakan hewan coba untuk melihat efektivitas pengobatan pada infeksi.

Secara in vitro ditemukan kadar hambat minimal zat aktif dalethyne terhadap kuman sangat kecil, sedang secara in vivo yang dujicobakan pada tikus menunjukkan dalethyne bekerja dengan baik terhadap kuman penyebab infeksi baik yang ada di rumah sakit maupun di masyarakat.

“Kami menemukan bahwasanya zat aktif dalethyne dapat membunuh kuman-kuman tersebut dengan konsentrasi 50 persen. Studi lebih lanjut didapatkan kemampuan membunuh kuman secara total. Dengan ini, apalagi terjadi infeksi dengan kuman tersebut pada luka, maka dalethyne dapat menjadi terapi utama di rumah sakit dan layanan kesehatan lain,” jelasnya.

Menanggapi pengujian tersebut, Kayapan Satya Dharsan menyampaikan rasa syukurnya karena dapat memberikan kontribusi penting di dunia kedokteran.

“Dalet berarti empat dalam Bahasa Ibrani. Melambangkan empat komponen pada minyak yang bekerja sama dalam proses penyembuhan luka,” jelasnya.

Satya Dharshan selama bertahun-tahun meneliti dan menciptakan sebuah mesin khusus yang dapat memisahkan komponen penting pada minyak menggunakan oksigen yaitu, proxide, anisidine, iodine dan akdehyde.

“Bersama Tim Imunologi Pascasarjana Unair, kami akan melakukan penelitian lanjutan untuk membuat modalitas terapi baru untuk memberikan solusi pada berbagai permasalahan di dunia kedokteran saat ini dan masa mendatang,” tuturnya.

Produk ini sendiri akan diluncurkan dalam bulan September serta paling lama pada bulan Oktober. Pada Januari 2017, tim akan bekerja sama dengan BPJS Kesehatan untuk pemanfaatan bagi masyarakat. (*)

Editor: Edy M Yakub

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *